TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
Showing posts with label Aqidah. Show all posts
Showing posts with label Aqidah. Show all posts

21 May 2016

SHALAT SUNAH NISFU



Shalat sunat nisfu adalah shalat sunat yang di kerjakan pada bulan sya’ban dan termasuk sholat sunat Mutlaq. Shalat sunat nisfus sya’ban ini biasa di kerjaan pada tanggal 15 sya’ban, waktu mengerjakannya pada malam hari yaitu sesudah shalat magrib, sesudah sholat isya, atau pada watu qiyamul lail.
Sesungguhnya malam nisfu sya’ban adalah malam dimana kesempatapan kita untuk mensucikan diri dari segala dosa sebulum datangnya bulan suci ramadhan. Kita sangat dianjurkan untuk memperbayak bacaan istigfar, dan banyak mengingat dosa-dosa yang telah kita lakukan pada tahun sebelumnya. Di harapkan kita juga menjadi seorang pema’af  bukan seorang yang menjadi dimaafkan.
Kita juga di haruskan memperbanyak bacaan tasbih. Seperti yang dikabarkan dari rosulullah saw, pada waktu isro wal mi’raj beliau bertemu dengan nabi ibrahim as dan disuruh oleh nabi ibrahim kepada Nabi Muhammad dan disuruh di sampaikan kepada kita sebagai umatnya untuk memperbanyak bacaan tasbih adapun bacaan tasbih yang dianjurkan Rosulullah adalah
سبحان الله و الحمد لله و لا اله إلا الله و الله أكبر و لا حول و لا قوة إلا با لله العلى العظيم
Shalat sunat tasbi ini dilakukan sebayak 4 rakaat dua kali salam.
Berikut niat shalat sunat tasbih dan tata caranya.
Niat
أُصَلِّي سُنَّةَ اْلتَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْن
“Niat abdi sholat sunat tasbih dua rakaat lilahi ta’ala”
Pada Rakaat pertama sesudah membaca doa iftitah membaca tasbih sebanyak 15 X,, kemudian membaca surah alfatihah, dan membaca surah Al Insyirah.
Kemudian ruku Sesudah mebaca bacaan ruku maka baca lagi Tasbih sebayak 10 X
Kemudian I’tidal, sesudah bacaan i’tidal sebelum sujud membaca tasbih sebanyak 10 X
Kemudian sujud, sesudah bacaan sujud membaca tasbih sebanyak 10 X
Duduk diantara dua sujud, sesudah membaca bacaan duduk diantara dua sujud membaca tasbih lagi sebanyak 10X
Sujud yang kedua, bacaan lagi tasbih sebanyak 10X
Bangun dari sujud jangan langsung berdiri tapi baca dulu tasbih sebanyak 10 X
Jadi jumlah satu raakatnya sebanyak 75 X tasbih
Pada rakaat kedua sama dengan Rakaat pertama namun bacaan surah yang berbeda sesudah membaca surah alfatihah membaca surah Al Fiil. Kemudian salam.
Pada rakaat selanjutnya sesudah membaca surah alfatihah membaca surah Al kafirun, untuk bacaan tasbihnya sama.
Rakaat terakhir sesudah membaca surah al Fatihah membaca surah al Ikhlas. Kemudian  salam.
Demikian tatacara sholat tasbih yang dianjurka rosulullah, mudah- mudahan kita semua menjadi orang yang suci lagi seperti waktu kita lahir, dan dosa- dosa kita di maafkan oleh Allah SWT sehingga kita mendapkan surgaNya. Amiiinn........

1 Jan 2016

Sejarah Tahun Baru Masehi


Tahun 2015 Tinggalah menjadi kenangan dan sudah meninggalkan kita semua, dan sekarang tahun telah berganti tahun 2016. Ini tahun baru Masehi, tentu saja, karena tahun baru Hijriyah telah terjadi beberapa bulan  yang lalu. Bagi kita orang Islam, ada apa dengan tahun baru Masehi?
 Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.
Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.
Perayaan Tahun Baru
Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristen. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.
Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut.
Fakta ini menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi. Acara ini terus dirayakan oleh masyarakt modern dewasa ini, walaupun mereka tidak mengetahui spirit ibadah pagan adalah latar belakang diadakannya acara ini.  Mereka menyemarakkan hari ini dengan berbagai macam permainan, menikmati indahnya langit dengan semarak cahaya kembang api, dsb.

Turut merayakan tahun baru statusnya sama dengan merayakan hari raya orang kafir. Dan ini hukumnya terlarang. Di antara alasan statement ini adalah:
Pertama, turut merayakan tahun baru sama dengan meniru kebiasaan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabda,
 “Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)
Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan,
 “Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”
Kedua, mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah berfirman,
 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..”
(QS. Al-Mumtahanan: 1)
Ketiga, Hari raya merupakan bagian dari agama dan doktrin keyakinan, bukan semata perkara dunia dan hiburan. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk madinah,
 “Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).
Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan orang majusi, sumber asli dua perayaan ini. Namun mengingat dua hari tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammelarangnya. Sebagai gantinya, Allah berikan dua hari raya terbaik: Idul Fitri dan Idul Adha.
Untuk itu, turut bergembira dengan perayaan orang kafir, meskipun hanya bermain-main, tanpa mengikuti ritual keagamaannya, termasuk perbuatan yang telarang, karena termasuk turut mensukseskan acara mereka.
Keempat, Allah berfirman menceritakan keadaan ‘ibadur rahman (hamba Allah yang pilihan),
 “Dan orang-orang yang tidak turut dalam kegiatan az-Zuur…” Sebagian ulama menafsirkan kata ‘az-Zuur’ pada ayat di atas dengan hari raya orang kafir. Artinya berlaku sebaliknya, jika ada orang yang turut melibatkan dirinya dalam hari raya orang kafir berarti dia bukan orang baik.
Bagi kita, orang Islam, merayakan tahun baru Masehi, tentu saja akan semakin ikut andil dalam menghapus jejak-jejak sejarah Islam yang hebat. Sementara beberapa pekan yang lalu, kita semua sudah melewati tahun baru Muharram, dengan sepi tanpa gemuruh apapun
Sumber : www.konsultasisyariah.com

14 Mar 2015

Batu Akik



BATU AKIK MENJADI INCARAN WARGA


Pantastis, hampir setiap orang sekarang ini menggunakan batu akik(batu cincin) yang sudah menjadi primadona di setiap pojok kota maupun desa, tua, muda sampai anak kecil pun sudah mengenakan batu akik. Pamor batu akik sebagai batu aji alias jimat sudah lama dikenal orang. Konon, batu ini bisa dijadikan pemikat, penolak bala, obat, sarana kesaktian diri dan sebagainya. “Kekuatan” apa saja sesungguhnya yang tersimpan di balik batu akik.

Batu akik digandrungi banyak orang rupanya bukan hanya karena keindahannya. Ada juga yang membeli, mengoleksi, merawat, bahkan mati-matian mencarinya lantaran mempercayai kekuatan gaib yang tersimpan di dalamnya. Yang dikhawatirkan sekarang ini adalah penyimpangan Aqidah bagi seorang muslim yang sudah berikrar dengan dua kalimah syahadat, seperti dengan mengenakan batu cincin ini bisa menjadikan diri seseorang menjadi anti peluru, tahan bacok, pelet, kewibawaan, pangkat dan lain sebagainya. Memang ada sebahagian batu akik yang terasa nyes dinginnya saat digenggam. Tidak Cuma itu, ada juga batu akik yang bermuatan magnet, bahkan listrik. Malahan yang bisa melekat erat saat ditempelkan di kaca atau di lidah pun ada. Inikah, antara lain, yang dimaksudkan dengan “kekuatan” batu akik itu ? phenomena apa yang menjadi dengan batu akik ini?

Konon, batu akik yang hendak dijadikan jimat, obat, lambang, atau apapun namanya bukan batu akik sembarang akik. Selain jenisnya tertentu, batu akik itu juga harus asli alias alami. Batu akik sintetis dianggap tidak memiliki kekuatan gaib, karena bikinan manusia. Sayangnya, menurut orang yang mengaku tahu perihal perakikan, kekuatan gaib itu tidak selalu mendatangkan keberuntungan atau hal-hal positif lainnya. Ada juga batu akik yang “kesaktiannya”, katanya, justru bisa mendatangkan sial bagi pemilik atau pemakainya.

Namun bagi seorang muslim yang sudah berikrar dengan dua kalimah syahadat berhati-hatilah sebab syetan bisa menyesatkan manusia dari segi yang lebih halus sekalipun. DTA**

Followers